Tuesday, July 7, 2009

pianoku sayang, pianoku malang...

Haduh haduh,, ada ada aja nih. Huuh...

Masa', sebuah benda mati seperti piano bisa ngamuk? Mana mungkin alias mustahil, kan????

Jadi gini,...

Emang sih, sejak beres UN saya udah jarang pisan nyentuh piano. Boro-boro mau main, yang ada di otak cuma gimana caranya tembus ujian-ujian mandiri yang diadakan berbagai universitas. Ok, saya sempet lah kalo cuma main sekali dua kali mah. Waktu itu, suaranya jernih bersih, keren lah pokoknya. Sampe saya nggak tega buat berhenti main. Yang ada dipikiran saya waktu itu malahan...

apa gue jadi pianis aja, ya???


Eh,, kutu kupret loncat-loncat, sekarang, begitu saya keterima di kedokteran yang membuat saya pasti dideportasi ke Jatinangor, dia malah mejen, nge-hang, tuts-nya nggak mau balik.

HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!!!

Apa segitu nggak relanya? Apa segitu sayangnya kamu sama pemain tetapmu ini, hemm????
*ditabok dan ditampar karena mulai gila*

Kembalilah sepeti sedia kala, kawan, karena selama setaun ke depan, aku nggak bakal ada kesempatan buat bersua denganmu...

Hiks.

=((

Sunday, July 5, 2009

liburan yang (cukup, tidak kurang dan sangat berlebihan) membosankan

Nyombong nih,, nyombong. Mentang-mentang udah keterima di universitas kedokteran yang terletak di bilangan Jatinangor serta almost menjadi penghuni sekolah teknik di bilangan taman sari, saya jadi mengalami sindrom sangat amat santei sekali meski pengumuman SNMPTN yang seharusnya jadi momen-momen menegangkan buat saya belum keluar. Ehe ehe ehe *ditabokin*

Yah, apa pun alasannya, yang jelas, selama satu bulan ini saya merasakan sesuatu yang disebut dengan 'Ketidak ada kerjaan'. Apaan sih itu? Kayak nama makanan aja. Sllrp..

Menurut definisi yang dikemukakan oleh Sir Thomas Suka Meler, 'Ketidak ada kerjaan' adalah sebuah peristiwa dimana si penderita merasakan suatu keadaan yang membuatnya lebih memilih menatap hampa dinding rumah daripada tidur siang seharian. Mengapa? Karena disinyalir penderita "Ketidak ada kerjaan' sebenarnya ingin pergi dan ngelayap dari rumah, tapi tidak tahu mesti kemana dan kebetulan tidak punya uang.

Ngomong-ngomong, Sir Thomas Suka Meler ini siapa? Ada yang ngerasa kenal nggak???

Back to topic, sekarang saya ngerasa haroream aka maleush melakukan apa-apa. Bukan karena saya lebih suka menatap hampa dinding belakang, bukan, tapi karena saya nggak ngerti mesti ngapain. Padahalnya, ada ratusan ide baik untuk fanfic mau pun orific yang belum saya rampungin dan dibiarkan membusuk di dalam harddisk serta di atas kertas-kertas ukuran B5 berlubang (baca : kertas binder) yang berserakan di atas meja dan keselip-selip buku. HAUHAUHAU...

Mana saya lagi meler lagi, kena flu. Bener aja, setiap abis ujian yang heboh, langsung kayak begini. Semoga nggak terus-terusan dan berhenti sampai sini. Masa nanti abis ujian bawaannya langsung tepar? Kapan mainnya???

Ah, udah ah. Sekarang lagi ngulang main game Tales of the Abyss lagi. Setelah lama, baru saya nyadar kalau Asch lebih ganteng daripada Luke, meski Luke yang rambutnya pendek lebih imut. Terus saya juga baru tau kalo rata-rata tokoh cowok di game tersebut lumayan enak diliat. Yah, kurang lebih setipe sama Gold Saints dari Saint Seiya, yang notabene ganteng semua.

Eh, ngomongin Saint Seiya, saya lagi nonton yang Hades Chapter nih. Shun yang jadi Hades Avatar lebih 'cowok', yah??? Ahahahaha XP

Somehow saya juga jadi suka sama si Wyvern Rhadamanthys dan sang musisi, Lyra Orpheus. Nggak tau kenapa. Padahal si Rhada specter paling rese se-rese-resenya.

Ah, tapi yang paling TOP tetap si kembar Gemini Saga dan Kanon serta sodara saya, Scorpion Milo. Apa sih ngaku-ngaku. Ahahahaha XP

Kemarin-kemarin juga sempet baca SS Lost Canvas. Yang keren di manga itu..

1. Pisces Albafica

2. Aquarius Degel


sebenernya yang lain keren juga, sih. Sayang si Kardia Scorpion kurang greget.

Pertama kali liat gambar Albafica,,

waw.

Duduk di atas batu besar di tengah padang mawar gitu. Keren..

Tapi kenapa ini malah jadi ngomongin Saint Seiya???

Dan satu lagi. Sungguh saya benci setengah mati sama si Athena itu. Katanya Dewa, tapi malah ga guna. Grumble grumble..

Yah, pokoknya, doakan saya bisa melewati satu bulan ini tanpa menumbuhkan satu inci lumut pun di tubuh saya.

Regards,

tazzu aldehid

Saturday, July 4, 2009

pilek pilek pilek srootttt

haduh haduhh,,, begitu selesai aja semua ujian-ujian, sakit deh.. weleh-weleh...

err, ada yang nyadar ga kalo saya hobi gonta-ganti layout? Sebenernya, saya pengen bikin sendiri yang cuco' sama kepengen saya, bukan cuma copy paste kode html doang, tapi apa daya saya ga bisa...

kalo ada yang kira-kira bisa membantu, dimohon kerja samanya...

regards dari si tukang tulis hobi tidur,

tazzu aldehid

Friday, July 3, 2009

untitled : chapter 1

5000 tahun setelah invasi..

Seorang remaja putra berambut merah darah tengah berlari di pinggir dinding benteng yang menjulang tinggi. Keringat mengucur dari tengkuknya, nafasnya tersengal. Meski wajahnya menunjukkan tanda kelelahan yang amat sangat, tampak tidak ada niat untuk berhenti berlari. Diapit oleh dinding dan sungai lebar yang mengalir sangat deras, matanya bergerak-gerak putus asa mencari sesuatu.

Dibelakangnya, dibalut oleh baju baja ringan yang tidak bisa ditembus apapun bahkan oleh pedang tertajam, sepuluh penjaga dengan tubuh serigala raksasa mengejarnya dengan nafsu membunuh. Masing-masing berlari dengan kecepatan luar biasa, mengejar si anak dengan jarak yang semakin lama semakin dekat.

Sekitar lima puluh meter di depan si anak, ada sebuah jembatan yang berdiri dengan kokoh di tengah sungai yang menderu. Terlihat secercah harapan di mata hijau zamrud anak itu. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menambah kecepatan larinya menuju jembatan itu. Serigala-serigala itu juga mempercepat larinya, berusaha menangkap si anak sebelum ia mencapai jembatan.

Tiba-tiba, dengan kecepatan dan keakuratan yang tinggi, sebatang anak panah melesat dan membidik kaki bocah itu. Untung, panah itu meleset. Si bocah kaget, namun tidak berhenti berlari sementara semakin banyak anak panah yang melesat ke arahnya. Ia mempercepat larinya, karena jembatan itu tinggal beberapa langkah lagi. Anak panah semakin banyak dan geraman putus asa yang mengerikan terdengar dari belakangnya. Ia, tidak ingin buang-buang waktu dengan menoleh ke belakang, terus berlari.

Ketika pada akhirnya ia mencapai jembatan, ia berhenti. Nafasnya memburu, berusaha menangkap oksigen sebanyak-banyaknya, dan keringat mengucur deras. Setelah keadaannya jauh lebih baik, ia menoleh ke belakang, melihat ke arah pengejarnya.

Serigala-serigala buas itu tidak bisa masuk ke jembatan. Mereka mencakar dan menggigit penghalang kasat mata. Si anak itu tersenyum menang melihat lawan-lawannya yang mengerikan itu berusaha mati-matian menembus dinding tak terlihat. Tiba-tiba, ada yang menepuk punggungnya. Ia berbalik dan melihat seorang pria yang lebih tinggi darinya, berambut hitam legam yang dipotong pendek dan rapi, dan sepasang mata kecoklatan yang memantulkan cahaya merah matahari terbenam tersenyum.

"Selamat datang kembali di dunia yang kejam, Ru."

untitled : prolog

Seribu tahun yang lalu, ketika bumi ini masih terdiri dari satu pulau, Cool Lands, semua penghuni bumi ini hidup dgn damai. Semuanya berjalan dengan damai sampai datang Bouldzaq.

Dengan tekhnologi mutakhir dan canggih, mereka menghancurkan dan memporakporandakan keseimbangan dunia.

Mereka membuat wilayah sendiri, membantai jutaan penghuni asli. Sejak itu, Cool Lands menjadi terbagi-bagi. Wilayah Bouldzaq tentu merupakan wilayah terbesar. Konon, lautan Cool Lands berubah menjadi lautan darah.

Penghuni asli, coalars, yang terpisah dan terasing, menjadi suku-suku yang dijadikan budak untuk menghancurkan satu sama lain.

Ada 8 suku coalars,
1. Brehmad, suku naga air yang menghuni bagian utara pulau ini yang merupakan pegunungan salju. Merupakan suku naga yang bertahan hidup dari invasi.
2. Medoan, penyihir-penyihir dan dukun ahli. Hidup di rawa-rawa yang busuk. Licik dan keji. Kaki tangan Bouldzaq.
3. Greavant, para ilmuwan dan pelajar. Hidup di tengah-tengah Bouldzaq.
4. Pekonian, makhluk di pedalaman hutan. Bisa berubah menjadi berbagai macam. Hidup berdampingan dengan Lucafira.
5. Lucafira, manusia bersayap yang hidup di pedalaman hutan. Karena invasi, jumlah mereka hanya tinggal lima ratus orang.
6. Farenait, manusia dengan cakar tajam yang hidup di tebing-tebing tinggi.
7. Macenair, ahli mesin yang dijadikan budak.
8. Oroinza, serigala raksasa yang keji dan jahat serta memiliki tingkat intelegensia yang tinggi, setingkat dengan Lucafira. Dijadikan penjaga oleh Bouldzaq.

Para coalars yang hidup terpisah dan tersembunyi, tidak pernah menyerah untuk merebut kembali tanah mereka. Beberapa dari mereka berkumpul dan merencanakan sesuatu.
Demi merebut tanah air, demi kebebasan.