Tuesday, July 7, 2009

I hate him

Disclaimer : I don't own any of ToA characters and places. This story is merely my stupid imagination

.

I hate him. I hate him for steal everything from me. My family, my house, my life. I hate him!

Not only he stole my life, but also stole my love.

Natalia.



“For me, you’re the real Luke!” she said to me that night on Belkend, after Guy left us for that dreck.

“If I am Luke, then who does that red haired man who sank Akzeriuth?” I asked her. “I told you, I’m not Luke anymore, for I’ve thrown that name away. I am Asch.”

“L..Asch.”

“Yeah, I am Asch. The leftover ashes of the sacred flame. Asch. Don’t call me Luke again, understood?” I said. It’s dark here in the inn, but I could feel she nodded. I lied on the bed and pulled my blanket. “Tomorrow we’ll head to Ortion Cavern. Make sure you get enough sleep,” I said again as I turned my position so my back faced her. From the sound she made, I knew she also lied on her bed and pulled the blanket.

“Night, Asch,” she whispered. After five minutes, I saw a movement from Jade’s bed which located beside mine. He turned his body and faced me. Then, he opened his cruel red eyes.

“My, my, what a cruel guy you were, making a girl broken like that.”

“Shut up! Mind your own business!” I hissed while pulled my blanket so it covered my head.

.

Yeah, I’m cruel. Why can’t I tell her that I want to be her one and only Luke? Why can’t I tell her that I’m so happy when she said I was the real Luke for her?

.

“Asch, I’m sorry about last night. I didn’t meant to say that,” she said on Tartarus. I looked at her sad feature and tried my best to resist the urge to hug her right now.

“There’s nothing to be apologized. It’s not your fault,” I said while walked away. Anise suddenly popped out from nowhere and poked me.

“Asch, what’re you doing last night? You didn’t do ‘that’, you know?” Anise said. I looked at her curiously.

“Do what?”

“Ouch, don’t be so innocent, Asch. You didn’t do that kind of activity, did you?” she said while raised her eyebrows. The moment I understand what she tried to say, I felt my face got burned.

“Oh, look, your face reddened! What are you thinking, Asch?” said Jade suddenly from behind me. “Your face’ color is the same as your hair now.”

“Haha, that’s true Colonel! You loves her so much, doesn’t you?” Anise said.

“A...God-Generals doesn’t need love. They need sword,” I said while tried to control my voice.

“Hee, sword, eh? What kind of sword exactly?” Jade said and smiled.

“Is there other kind of sword beside the one Guy and Asch used?” asked Anise innocently. Jade laughed.

“Shut up Jade!!!” I shouted.

.

I hate him, I do really hate that wrenched dreck. He stole my family, my love, my life. He even stole those who supposed to be my friend, my best partner.

.

“I’m sorry, I got to go. I’m worried about Luke. I’m going back to Yulia City,” Guy said to us when we got out from the laboratory in Belkend.

“What? Are you serious, Guy?” Anise shouted.

“What’re you talking about? Ther real Luke is here,” said Natalia.

“Yeah, maybe that person is the real Luke, but my friend is that idiot. He becomes a spoiled brat like that is also my responsibilities. Sorry, guys,” Guy said lightly. I tightened my grip on my sword.

“If you want to come back to Yulia City, go to Aramis Spring. That place somehow connects to Yulia City. I believes that Tear also popped out in that place when she first came to Outer World,” I explained. Guy nodded.

“Thanks. Goodbye then,” he said and ran away. I sighed.

“Is it okay, Asch?” Anise asked.

“Why not? He’s free to go wherever he wants. It’s not like I’m his master or whatever.”

“But you’re Luke,” Anise said. I didn’t respond to her words but I could feel my eyes became hot with tears.

“I’m not Luke. Besides, there’s no point in keeping him with us,” I said while walked away and tried to wipe my tears without everyone, especially Jade, knew.

“Well, all I concerned is we’re going to lose Guy’s fighting skills. I assume there’s lot of monster in Ortion Cavern as well,” said Jade while looked at me.

“We don’t need him. I myself is more than enough to handle them,” I said confidentally.

“Oh, so, this Luke also didn’t want to lose his friends either, especially Guy. Both of you like him a lot. Am I right?” he whispered. Anise and Natalia have walked away in front of us. I glared at Jade. “Oh, what a cruel stare you gave me, but I take that as yes.”

“Jade, will you shut your mouth?”

.

Guy Cecil, I expected you would choose me above that pathetic replica. Maybe he needed you, but I needed you even more. It’s seven years loss I’m talking about. You can’t imagine a life I live in the middle of chaos and blood. No partner to trust, no friend to rely on. Can’t you imagine I depends myself on one of other Six God-Generals??

.

I hate him, that pathetic dreck. For steal my bed, my name, my mom.

.

“Mom, this is Asch, I mean, the real Luke,” that replica explained to Susanne, my mother.

“Luke?” she repeated. I approached her and knelt before her.

“Long time no see, Mom. How’re you?” I said as I looked at her eyes. She touched my shoulder.

“Stand up, Luke. Oh, my Luke. My long-lost Luke. I’m sorry,” she said and hugged me. “You too, come here, Luke,” she said to that replica. He approached her and she hugged him also.

“Thank you for coming back home, you two. No matter who you are, replica or original, both of you are my sons. This manor is widely open to you. Come back anytime as you pleased.” Hearing that, I looked at that replica. He seemed he would cry anytime, though deep inside I felt the same too.

.

I hate him. For stole everything, but, at least...

...he’s not as pathetic as I thought.

pianoku sayang, pianoku malang...

Haduh haduh,, ada ada aja nih. Huuh...

Masa', sebuah benda mati seperti piano bisa ngamuk? Mana mungkin alias mustahil, kan????

Jadi gini,...

Emang sih, sejak beres UN saya udah jarang pisan nyentuh piano. Boro-boro mau main, yang ada di otak cuma gimana caranya tembus ujian-ujian mandiri yang diadakan berbagai universitas. Ok, saya sempet lah kalo cuma main sekali dua kali mah. Waktu itu, suaranya jernih bersih, keren lah pokoknya. Sampe saya nggak tega buat berhenti main. Yang ada dipikiran saya waktu itu malahan...

apa gue jadi pianis aja, ya???


Eh,, kutu kupret loncat-loncat, sekarang, begitu saya keterima di kedokteran yang membuat saya pasti dideportasi ke Jatinangor, dia malah mejen, nge-hang, tuts-nya nggak mau balik.

HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!!!

Apa segitu nggak relanya? Apa segitu sayangnya kamu sama pemain tetapmu ini, hemm????
*ditabok dan ditampar karena mulai gila*

Kembalilah sepeti sedia kala, kawan, karena selama setaun ke depan, aku nggak bakal ada kesempatan buat bersua denganmu...

Hiks.

=((

Sunday, July 5, 2009

liburan yang (cukup, tidak kurang dan sangat berlebihan) membosankan

Nyombong nih,, nyombong. Mentang-mentang udah keterima di universitas kedokteran yang terletak di bilangan Jatinangor serta almost menjadi penghuni sekolah teknik di bilangan taman sari, saya jadi mengalami sindrom sangat amat santei sekali meski pengumuman SNMPTN yang seharusnya jadi momen-momen menegangkan buat saya belum keluar. Ehe ehe ehe *ditabokin*

Yah, apa pun alasannya, yang jelas, selama satu bulan ini saya merasakan sesuatu yang disebut dengan 'Ketidak ada kerjaan'. Apaan sih itu? Kayak nama makanan aja. Sllrp..

Menurut definisi yang dikemukakan oleh Sir Thomas Suka Meler, 'Ketidak ada kerjaan' adalah sebuah peristiwa dimana si penderita merasakan suatu keadaan yang membuatnya lebih memilih menatap hampa dinding rumah daripada tidur siang seharian. Mengapa? Karena disinyalir penderita "Ketidak ada kerjaan' sebenarnya ingin pergi dan ngelayap dari rumah, tapi tidak tahu mesti kemana dan kebetulan tidak punya uang.

Ngomong-ngomong, Sir Thomas Suka Meler ini siapa? Ada yang ngerasa kenal nggak???

Back to topic, sekarang saya ngerasa haroream aka maleush melakukan apa-apa. Bukan karena saya lebih suka menatap hampa dinding belakang, bukan, tapi karena saya nggak ngerti mesti ngapain. Padahalnya, ada ratusan ide baik untuk fanfic mau pun orific yang belum saya rampungin dan dibiarkan membusuk di dalam harddisk serta di atas kertas-kertas ukuran B5 berlubang (baca : kertas binder) yang berserakan di atas meja dan keselip-selip buku. HAUHAUHAU...

Mana saya lagi meler lagi, kena flu. Bener aja, setiap abis ujian yang heboh, langsung kayak begini. Semoga nggak terus-terusan dan berhenti sampai sini. Masa nanti abis ujian bawaannya langsung tepar? Kapan mainnya???

Ah, udah ah. Sekarang lagi ngulang main game Tales of the Abyss lagi. Setelah lama, baru saya nyadar kalau Asch lebih ganteng daripada Luke, meski Luke yang rambutnya pendek lebih imut. Terus saya juga baru tau kalo rata-rata tokoh cowok di game tersebut lumayan enak diliat. Yah, kurang lebih setipe sama Gold Saints dari Saint Seiya, yang notabene ganteng semua.

Eh, ngomongin Saint Seiya, saya lagi nonton yang Hades Chapter nih. Shun yang jadi Hades Avatar lebih 'cowok', yah??? Ahahahaha XP

Somehow saya juga jadi suka sama si Wyvern Rhadamanthys dan sang musisi, Lyra Orpheus. Nggak tau kenapa. Padahal si Rhada specter paling rese se-rese-resenya.

Ah, tapi yang paling TOP tetap si kembar Gemini Saga dan Kanon serta sodara saya, Scorpion Milo. Apa sih ngaku-ngaku. Ahahahaha XP

Kemarin-kemarin juga sempet baca SS Lost Canvas. Yang keren di manga itu..

1. Pisces Albafica

2. Aquarius Degel


sebenernya yang lain keren juga, sih. Sayang si Kardia Scorpion kurang greget.

Pertama kali liat gambar Albafica,,

waw.

Duduk di atas batu besar di tengah padang mawar gitu. Keren..

Tapi kenapa ini malah jadi ngomongin Saint Seiya???

Dan satu lagi. Sungguh saya benci setengah mati sama si Athena itu. Katanya Dewa, tapi malah ga guna. Grumble grumble..

Yah, pokoknya, doakan saya bisa melewati satu bulan ini tanpa menumbuhkan satu inci lumut pun di tubuh saya.

Regards,

tazzu aldehid

Saturday, July 4, 2009

pilek pilek pilek srootttt

haduh haduhh,,, begitu selesai aja semua ujian-ujian, sakit deh.. weleh-weleh...

err, ada yang nyadar ga kalo saya hobi gonta-ganti layout? Sebenernya, saya pengen bikin sendiri yang cuco' sama kepengen saya, bukan cuma copy paste kode html doang, tapi apa daya saya ga bisa...

kalo ada yang kira-kira bisa membantu, dimohon kerja samanya...

regards dari si tukang tulis hobi tidur,

tazzu aldehid

Friday, July 3, 2009

untitled : chapter 1

5000 tahun setelah invasi..

Seorang remaja putra berambut merah darah tengah berlari di pinggir dinding benteng yang menjulang tinggi. Keringat mengucur dari tengkuknya, nafasnya tersengal. Meski wajahnya menunjukkan tanda kelelahan yang amat sangat, tampak tidak ada niat untuk berhenti berlari. Diapit oleh dinding dan sungai lebar yang mengalir sangat deras, matanya bergerak-gerak putus asa mencari sesuatu.

Dibelakangnya, dibalut oleh baju baja ringan yang tidak bisa ditembus apapun bahkan oleh pedang tertajam, sepuluh penjaga dengan tubuh serigala raksasa mengejarnya dengan nafsu membunuh. Masing-masing berlari dengan kecepatan luar biasa, mengejar si anak dengan jarak yang semakin lama semakin dekat.

Sekitar lima puluh meter di depan si anak, ada sebuah jembatan yang berdiri dengan kokoh di tengah sungai yang menderu. Terlihat secercah harapan di mata hijau zamrud anak itu. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menambah kecepatan larinya menuju jembatan itu. Serigala-serigala itu juga mempercepat larinya, berusaha menangkap si anak sebelum ia mencapai jembatan.

Tiba-tiba, dengan kecepatan dan keakuratan yang tinggi, sebatang anak panah melesat dan membidik kaki bocah itu. Untung, panah itu meleset. Si bocah kaget, namun tidak berhenti berlari sementara semakin banyak anak panah yang melesat ke arahnya. Ia mempercepat larinya, karena jembatan itu tinggal beberapa langkah lagi. Anak panah semakin banyak dan geraman putus asa yang mengerikan terdengar dari belakangnya. Ia, tidak ingin buang-buang waktu dengan menoleh ke belakang, terus berlari.

Ketika pada akhirnya ia mencapai jembatan, ia berhenti. Nafasnya memburu, berusaha menangkap oksigen sebanyak-banyaknya, dan keringat mengucur deras. Setelah keadaannya jauh lebih baik, ia menoleh ke belakang, melihat ke arah pengejarnya.

Serigala-serigala buas itu tidak bisa masuk ke jembatan. Mereka mencakar dan menggigit penghalang kasat mata. Si anak itu tersenyum menang melihat lawan-lawannya yang mengerikan itu berusaha mati-matian menembus dinding tak terlihat. Tiba-tiba, ada yang menepuk punggungnya. Ia berbalik dan melihat seorang pria yang lebih tinggi darinya, berambut hitam legam yang dipotong pendek dan rapi, dan sepasang mata kecoklatan yang memantulkan cahaya merah matahari terbenam tersenyum.

"Selamat datang kembali di dunia yang kejam, Ru."