Wednesday, July 15, 2009

m.p.d_chapter 2

“Baso tahu seporsi Bang! Semuanya kecuali pare!” seru Gin sesampainya di kantin, masih menyeretku seenaknya. “Lu mau pesen apa Ris?” tanyanya.

“Lontong Kari.”

“Sama lontong kari satu Bang! Duduknya disana!” serunya lagi sambil menunjuk ke salah satu deretan kursi dan kemudian menyeretku ke kursi yang dimaksud. “Akhirnya lu jadi ya mabalnya,” katanya santai sambil cengengesan.

“Berkat Anda,” kataku sambil duduk dan membetulkan letak syal abu-abu yang sejak tadi melingkar di leherku. Gin hanya tersenyum dan memamerkan giginya yang rapi.

“Hehe, lu harusnya berterima kasih sama gue, yang sudah membebaskan dirimu dari neraka sesaat itu.”

“Te-ri-ma-ka-sih,” ejaku. Gin hanya tersenyum simpul dan mengerucutkan bibirnya. Tampak lucu.

“Well, gimana kabar? Udah lama ngga ngobrol berdua gini aja. Abang-abangmu masih mengidap sister-complex?”

“Kurang lebih begitu. Makin parah. Kemarin Haru nelepon aja mereka maki-maki,” kataku sambil memutar-mutar handphone tipis merah milikku.

“Dimaki gimana?” tanyanya. Entah mengapa nada suaranya jadi berubah. Ekspresinya juga jadi keras begitu ia mendengar nama Haru.

“Dikatain lemah. Kak Bian yang bilang. Rai-nii mah ngga bilang apa-apa.”

“Lu masih sama dia? Sama si cowok lemah itu?” tanya Gin. Aku menatap matanya dan entah kenapa, aku merasa bisa melihat kilat kemarahan dari matanya yang berwarna coklat susu.

“Masih gimana?” tanyaku bingung.

“Lu jalan sama dia kan? Lu ceweknya kan?” tanyanya lagi. Nada suaranya jadi lebih tinggi.

“Gue ceweknya apa urusan lu? Emangnya kenapa kalo emang gue masih jalan sama dia?” tanyaku dengan nada yang tidak kalah tinggi. “Cemburu?”

“Ngapain cemburu? Gue cuma kasian aja sama lu, mau-maunya jadi cewek orang aneh kayak begitu,” katanya asal.

BRAK!!!!

Aku menggebrak meja, membuat semua orang yang ada di kantin menoleh kearahku. Gin sendiri tampak kaget.

“Lu kalo ngomong mikir! Kayak yang lu ngga aneh aja! Siapa lu sampe bisa nge-judge orang aneh? Siapa lu sampe kasian sama gue? Jaga mulut lo!” seruku. Pelan-pelan air mataku tumpah. “Haru jauh lebih baik daripada cowok sialan kayak lu!” seruku sambil berlari keluar kantin.

“RISYA!!” seru Gin sambil ikut berdiri. Meski mataku sedang bocor dan aku sedang berlari, aku tahu dia mengejarku di belakang. Aku mempercepat lariku.

“RISYA! TUNGGU!” serunya lagi. “RISYA!!!”

Aku terus berlari tanpa arah seperti orang kesetanan. Sesampainya di depan kelasku, tiba-tiba tanganku ditarik sedemikian rupa. Aku menoleh kearah pelaku sialan itu dan mendapati Gin berdiri disana sambil memegang lenganku. Nafasnya tersengal-sengal.

“Lepas, gue mau masuk kelas,” kataku seraya berusaha melepas cengkeramannya.

“Denger dulu Ris,” bujuknya.

“Ngga, lepas.”

“Ris, gue punya alesan yang jelas—

“GUE GA PEDULI! LEPAS!” jeritku pada akhirnya. Gin melepas tanganku. Ekspresinya tampak kaget sekali. Aku terisak karena lelah sehabis berlari dan karena menangis. Kepalaku jadi pusing.

“Ris, sori, gue ngga maksud buat—

“Lu,, diem,, aja,, Haru,, ngga,, kayak—

“Ris?” potong Gin bingung. “Kamu kenapa? Lu pucet abis,” katanya sambil memeriksa mukaku. Ia menyingkirkan poni datar yang nyaris menutupi mataku. Aku menyingkirkan tangannya dari wajahku. Nafasku rasanya berat dan semuanya jadi buram.

“Ha,,ru,,ngga,,gitu,” kataku terengah-engah. Kakiku tiba-tiba lemas bukan main. Aku bersandar di pintu kelas. Kepalaku seperti dipukuli oleh palu berukuran ekstra besar dengan berat satu ton. “Aku,,ngga—

“RISYA!!!!!”


***


“Hah? Kupu-kupu?” tanyaku bingung. “Kupu-kupu gimana? Apa maknanya? Gimana bikinnya?” todongku.

“Yapyap, kupu-kupu. Kupu-kupu yang simpel aja, dari bahan kulit warna item gitu, ato pake bahan beludru. Lucu kan?” serunya semangat. Aku menggaruk kepala.

“Yaa, lucu mah, lucu. Bikin motifnya juga gampang. Ngejaitnya juga bisalah. Tapi kulitnya darimana dapetnya?”

“Neechan punya kok!!”

“Nee apa??” tanyaku bingung.

“Neechan, kakak cewekku. Dia designer gitu. Kemarin waktu ngobrak-ngabrik kamarnya aku liat segulung bahan kulit warna item sama bahan beludru gitu. Aku udah minta sih,” katanya sambil tersenyum lebar.

“Oh, ya udah. Tapi maknanya apa??” tanyaku ngotot. Dia tidak menjawab, malahan senyum-senyum sendiri seperti orang mesum. Dia lalu berdiri dan berjalan mendekati jendela.

“Kamu tau? Kupu-kupu itu cuma idup tiga hari,” katanya sambil menerawang ke arah lapangan basket dimana para senior sedang menggila.

“Aku taunya kupu-kupu dewasa emang cepet mati. Emang kenapa?”

“Mereka hidup cuma buat bertelur sebanyak-banyaknya, terus mati.”

“Terus?” tanyaku sambil memiringkan kepalaku sedikit. Ia berbalik dan tersenyum manis.

“Itu maknanya! Kita SMU cuma tiga tahun kan? Selama tiga tahun ini, kita harus banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup kita, kayak kupu-kupu yang hidup tiga hari cuma buat bertelur demi kelangsungan hidup spesiesnya. Kupu-kupu itu bisa jadi pengingat betapa singkatnya masa SMU kita, jadi kita bisa lebih semangat!” jelasnya panjang lebar dengan semangat. “Gimana???”

Aku mengerucutkan bibirku dan berpikir. Tak lama aku mengangguk setuju dan berdiri lalu mengambil tasku dan ngeloyor pergi. Hari ini siswa kelas sepuluh hanya diberi tugas, jadi pulangnya lebih cepat.

“Hei, mau kemana??” serunya panik. Aku berbalik.

“Kerumahmu. Di rumahku ngga ada mesin jahit dan bahan kulitnya juga ada di rumah kamu kan?” jawabku. Mendengar jawabanku, ia tersenyum sangat lebar. Buru-buru ia mengambil tasnya dan berlari menghampiriku. Tiba-tiba saja ia menggenggam tanganku.

“Arigatou Vardel-chan!!!” serunya sambil menarikku menuju gerbang sekolah.



***


Aku mendengar suara-suara gaduh disekelilingku. Perlahan aku membuka mataku dan mendapati wajah Gin tepat ada di depan, lebih tepatnya, di atasku. Aku bisa merasakan lengannya di punggungku dan dinginnya keramik di pantatku.

“Ris? Ris, lu ngga apa?” tanya Gin yang tengah mendekapku. Samar aku bisa menghirup wangi laut dari tubuhnya. Aku mengerjapkan mata beberapa kali.

“Uh huh,” jawabku sambil berusaha bangkit. Sayangnya, aku tidak sanggup bahkan untuk sekedar bangkit. Aku oleng dan jatuh ke pelukannya lagi. Ia dengan sigap menangkapku. “Sori,” ucapku pelan. Ia menggeleng.

“Risya, kamu sakit?” tanya Pak Burhan, guru kimia, yang berdiri di samping Gin.

“Ngga tau Pak. Tiba-tiba pusing banget,” ujarku pelan sambil memegang pelipisku yang sedang berdenyut sangat hebat.

“Sebaiknya kamu pulang saja,” usul Pak Burhan. Aku hanya tersenyum miris.

“Saya bawa kendaraan, Pak. Kalau lagi pusing gini nyetir yang ada besok saya tinggal nama,” kataku sambil sedikit tertawa.

“Hush! Jangan ngomong begitu!” seru beliau sementara yang siswa lain yang mengerubungiku hanya tertawa mendengar omonganku. “Ya sudah, kamu istirahat saja di UKS. Siapa tahu setelah itu kamu jadi lebih sehat dan siap mengebut.”

“Siap Pak!” kataku sambil berusaha bangkit lagi dan, jatuh lagi. Aku menghela nafas di pelukan Gin.

“Gue bantu berdiri ya?” tawarnya. Aku mengangguk lemah. Ia melingkarkan lengan kananku ke pundaknya yang bidang dan lebar. Tangan kirinya menyokong pinggangku. “Siap?” tanyanya sambil memasang posisi siap berdiri. Tiba-tiba perutku bergejolak dan melilit, seperti ada sesuatu yang mendesak semua isinya ke mulut. Aku bisa merasakan rasa asam yang sangat dilidahku.

“Pelan-pelan ya. Gue udah siap muntah kapanpun,” kataku pelan. Ia mengangguk.

“Oke, satu, dua—

“RISYA!!!!!” seru seseorang tiba-tiba. Aku menoleh ke arah sumber suara. Seorang pemuda yang berantakan dengan kostum kimono hijau muda bermotif bambu hijau yang terlihat sangat pas di kulitnya yang putih. Rambutnya berantakan dan mencuat kesana kemari. Matanya yang berwarna coklat gelap terlihat khawatir dibalik kacamata berbingkai setengah yang dipakainya. Tangan kanannya memegang ponsel dan dompet, sementara tangan yang lain memegang kunci mobil. Obi hitam yang dipakainya sudah tidak jelas bentuknya, hanya diikat sembarangan. Nafasnya terengah-engah.

“Ha,,ru?” tanyaku pelan. Ia lalu menghampiriku dan berjongkok di dekatku. Aku mengulurkan tanganku yang bebas dan ia langsung menggenggamnya. “Kena,,pa?”

“Sinta telepon, katanya kamu pingsan,” ujarnya lemah. Ia membetulkan letak kacamatanya. “Kenapa? Sakit?” tanyanya sambil mempererat genggamannya. Aku menggeleng.

“Heh, lu misi napa? Gua mau bawa dia ke UKS,” bentak Gin galak tiba-tiba. Haru melihat kearahnya.

“Gue aja,” katanya sambil menaruh tangannya di punggung dan kakiku, lalu berdiri dan menggendongku, sambil sedikit mendorong Gin dengan cukup keras. Kepalaku terkulai ke bahunya yang tegap. Wangi sabun masih kental tercium dari tubuhnya. Ia lalu mengecup keningku sesaat sebelum menoleh kearah kerumunan yang mulai histeris. “Ter, barang-barang gue dong,” katanya sambil mengedikkan kepalanya ke lantai. Teru, cowok jangkung dengan sweater merah burgundinya langsung jongkok kemudian bangkit. Aku mengulurkan tangan untuk mengambil barang-barang itu.

“Sini, Ter,” kataku. Teru menyerahkan barang-barang itu dan Haru bergerak. Ia berjalan pelan agar tidak membuatku goyang-goyang. Selama perjalanan ke UKS, aku bisa merasakan bibir Haru yang kering di kepalaku. Ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, tapi membuatku tenang. Perlahan aku memejamkan mata dan menarik nafas panjang.


***

Setelah sukses tersesat di Kota Bandung yang sempit ini karena orang bodoh yang mengajakku kerumahnya ini baru pertama kali naik angkot, kami sampai dirumahnya. Kesan pertamaku adalah, ‘waw’.

Dari luar, rumah itu terlihat simpel, dengan arsitektur ala Jepang yang kental. Taman yang terdiri dari rumput-rumput yang diurus dengan rapi sehingga terlihat seperti karpet, semak-semak dengan bunga-bunga kecil, pohon nangka yang besar dan menjulang serta rimbun –dengan anggrek berwarna ungu serta putih menempel di batangnya cukup membuat orang awam sepertiku menganga. Ia hanya tertawa melihat reaksiku.

“Ini belum seberapa! Masuk yuk!” ajaknya.

Benar saja, isi dari rumah itu jauh lebih mengejutkan. Suasana Jepang sungguh sangat terasa didalam rumah itu. Elemen yang paling dominan adalah kayu. Benar-benar seperti ada di sebuah kastil di Jepang sana yang dimodifikasi sedemikian hingga mengikuti kemajuan zaman. Di ruang tamu yang berlantaikan keramik berwarna gading, satu set sofa yang terlihat empuk dengan warna broken white berjajar melingkar di depan sebuah meja kayu dan TV layar datar.

Di satu sisi dinding, terdapat sebuah meja kayu dengan laci-laci kecil. Di atasnya terdapat sebuah tombak dengan gagang berwarna hitam yang mengkilat dan bentuk pisau yang seperti bulan sabit, melengkung indah dan berbahaya. Di sisi yang lain, terdapat foto yang besar. Aku menghampiri foto itu dan melihat dengan seksama. Semua orang di dalam gambar itu memakai pakaian adat.

“Itu foto waktu Niichan nikah,” jelasnya. Aku mengerenyitkan keningku waktu mendengar istilah aneh lagi. Ia tertawa kecil. “Abangku,” katanya sambil menunjuk ke gambar seorang pemuda yang berada di tengah-tengah. Aku mengangguk.

“Kamu beneran orang Jepang?” tanyaku.

“Ngga juga sih. Yang orang sana cuma Tou-san, ayahku. Beliau juga ngga seratus persen orang sana sih, kakekku orang Jerman. Ibuku sendiri blasteran Indonesia-Jamaika. Tapi tampaknya yang dominan tetep darah Asia-nya,” jelasnya. Aku mengangguk.

“Tapi kenapa ngga ada yang sipit?” tanyaku penasaran. “Ayahmu sipit tuh,” kataku sambil menunjuk ke arah gambar seorang pria paruh baya dengan tampang agak sangar. Dia tertawa.

“Hahaha. Kalo mata, semuanya dapet dari Ibu. Makanya ngga ada yang sipit. Ayo ke atas, kamar Neechan disana,” katanya seraya berjalan menjauhi aku yang masih menatap foto itu dengan seksama. Wajah ayahnya tampak tidak bersahabat, meski dalam foto sekalipun. Meski tangannya merangkul pundak Haru, aku merasa bisa melihat aura tidak bersahabat memancar darinya. “Risya!” panggil Haru dari arah tangga. Aku segera mengikutinya.

Di lantai atas, ada seorang gadis sedang berbicara dengan bahasa asing. Rambutnya yang hitam legam dan lurus tampak bergoyang-goyang membentuk gelombang. Ia berjalan bolak-balik sambil setengah membentak orang di seberang sana. Setelah beberapa menit, ia memutus hubungan teleponnya dan berbalik ke arah kami. Begitu melihat kami, ia tersenyum ramah dan menghampiri kami.

“Tadaima, Ikkun,” katanya pada Haru. Suaranya bening dan seperti anak-anak.

“Okaeri, Neechan,” balas Haru. “Marah-marah melulu. Aw!” serunya ketika kakaknya itu memukulnya dipantat.

“Ikkun, jangan seenaknya. Tapi kamu hebat juga ya, baru masuk udah punya pacar,” kata kakakny sambil melihat kearahku. Ia lalu mengulurkan tangannya. “Rei Arisaka.”

Aku mengerenyit sedikit saat mendengar namanya yang agak aneh. “Amarisya Vardel,” kataku setelah beberapa lama sambil mejabat tangannya. Ia lalu tersenyum.

“Yah, aku ada kerjaan. Bahannya di kamar, di atas kasur. Duluan,” katanya sambil berjalan turun. Baru beberapa anak tangga, ia berbalik dan tersenyum jahil. “Jangan diapa-apain dulu ya,” katanya. Haru melepas kaus kakinya dan melemparkan benda itu pada kakaknya yang sedang tertawa-tawa di bawah.

“Gila!!” umpatnya kesal. “Dasar tante-tante sialan tukang ngambil uang dari celengan orang! Dasar cewek jalang!!!!!” serunya lagi.

“Ki? Kenapa ngamuk gitu?” tanyaku. Entah kenapa rasanya ada yang berbeda. Ia lalu berbalik menghadapku. Tatapannya berbeda dengan Haru yang aku kenal selama tiga hari ini. Tiba-tiba, ia mengulurkan tangannya.

“Natsu. Salam kenal.”



***

Aku membuka mataku perlahan. Yang pertama kali kulihat adalah langit-langit kusam. Aku menoleh ke kiri dan melihat Haru sedang duduk di kursi. Ia segera menghampiriku begitu melihat aku sadar.

“Gimana?” tanyanya sambil mengelus kepalaku. Aku tersenyum lemah.

“Lumayan. Kayaknya aku udah sanggup nyetir,” kataku sambil berusaha bangun. Kepalaku tidak lagi berdenyut seperti tadi tapi badanku masih lemas.

“Jangan dipaksain,” katanya lagi sambil duduk di pinggir tempat tidur. Wajahnya tampak khawatir dan lelah. Aku menyadari ada sesuatu yang janggal dengannya.

“Kenapa kamu pake kimono?” tanyaku. Ia tertawa.

“Tadi nyambut Tou-san. Yah, taulah gimana ribetnya,” katanya.

“Nyambut?? Terus ngapain kamu disini??”

“Kan udah dibilang, tadi Sinta nelpon. Jadi aku langsung cabut.”

“Terus??”

“Ya kutinggal aja tuh upacara adat yang bikin kesemutan. Hehe,” katanya sambil tertawa-tawa.

“Pulang,” kataku pelan.

“Hah?”

“PULANG!! Gimana kalo kamu diapa-apain?? Mestinya kamu mikir dulu! Udah sana pulang!!!” seruku sambil mendorong tubuhnya. Ia lalu menggenggam tanganku kencang. Aku menatap matanya. Ia balas menatapku tajam.

“Diem! Sekarang tidur!” serunya sambil mendorongku ke tempat tidur. “Ngga usah banyak omong! Orang penyakitan diem aja!!” serunya lagi. Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. “Ngapain liat-liat? Lupa ya?” tanyanya lagi lalu tersenyum dan mengacak rambutku yang sudah berantakan.

“Apaan sih Ru!” seruku sambil menyingkirkan tangannya. Ia malah tertawa histeris.

“I’m not him” katanya. Aku mengerenyit. Ia lalu berdiri dan mengulurkan tangannya.

“Apaan? Kenapa bisa kamu bukan—

“Natsu,” katanya memotong kalimatku.

m.p.d_ chapter 1

“Ris, kamu bakal sakit kalau lama-lama duduk di pinggir kolam. Anginnya cukup gede loh,” ucap lembut seorang wanita. Aku menoleh dan menemukan seorang wanita paruh baya sedang tersenyum di sebelahku. Rambutnya yang hitam dan pendek dan bergaya anak muda sangat cocok membingkai wajahnya yang tak lagi terlihat muda. Daster batik yang dikenakannya tampak berwarna aneh karena sinar lampu yang memantul di kolam renang diserap sedemikian hingga. “Masuk yuk,” ajaknya.

“Entar aja deh, Ma. Masih pengen disini,” jawabku sambil memalingkan muka dan kembali memandangi riak-riak air di kolam renang.

“Ya sudah. Mama ke dalam duluan ya. Jangan kemaleman, inget minggu depan kamu ujian nasional,” katanya sambil menepuk kepalaku lembut dan pergi. Aku memandangi sosoknya untuk sementara sebelum kembali memandangi kolam yang monoton.

Ujian nasional, ya?

“RISYAAAA!!!” jerit seorang pemuda dari jendela terdekat di lantai dua. Aku menoleh dan melihat seorang pemuda dengan rambut hitam pendek dan berantakan menongolkan kepalanya dari sana. “Ada telepon!!!” serunya lagi sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

Aku menghela nafas sebelum akhirnya bangkit dan berjalan dengan gontai ke dalam rumah. Di ruang tamu, di sofa warna gading yang empuk dan besar, seorang pria paruh baya sedang santai membaca koran. Kacamata dengan frame setengahnya memantulkan cahaya dari lampu kristal kekuningan di langit-langit. Di sebelahnya, ibuku sedang asik membaca buku resep masakan yang baru saja dibelinya. Laki-laki itu menoleh kearahku sewaktu mendengar suara pintu geser dibuka.

“Telepon,” katanya singkat sambil melipat korannya dan menekan tombol remote.

“Hng,” jawabku sambil terus berjalan.

“Ris,” panggilnya, membuat aku berhenti dan memandang kearahnya.

“Apa?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat kearahku dengan penuh makna. Sepertinya ada sesuatu yang ia ingin katakan, hanya saja ia tidak mengerti bagaimana cara mengatakannya.

“Jangan kemaleman,” katanya setelah beberapa saat sebelum kembali ke kegiatannya membaca koran yang lain. Aku berdiri bingung untuk beberapa saat. “Jangan lama-lama neleponnya,” katanya lagi. Mendengar itu, ibuku tertawa kecil.

“Ayahmu ini mengidap daughter complex. Sama seperti kakak-kakakmu yang mengidap sister complex,” jelas ibuku. Ayah langsung mengirimkan pandangan yang berarti ‘jangan-sebut-sebut-penyakit-apa-itu-complex-di-depan-anak-anak’. Sayang, ibuku tidak melihatnya dan terus tertawa-tawa kecil.

“Ngga akan. Paling juga si Teru nanyain peer, ato si Jojo nanyain jadwal pelajaran. Orang-orang ngga penting semua gitu mah, ngga akan lama-lama neleponnya Yah,” kataku sambil melengos pergi dan naik keatas. Disana, tampak dua orang dengan paras hampir mirip satu sama lain sedang sibuk di depan televisi layar datar.

“Tolol lu! Itu offside!” seru yang tadi memanggilku sambil mendorong yang lain. “Udah, sekarang giliran gua!”

“Ngga offside! Liat tuh garisnya! Ngga offside tolol!” seru yang lain. “Lu mah nanti aja, kan tadi lu udah main seharian, sekarang giliran gua.”

“Ngga bisa gitu! Offside mah offside aja! Minggir lu!”

“Apaan sih!”

“Rai-nii, Kak Bian,” kataku pada akhirnya, membuat dua orang itu berhenti memperebutkan stik PS2 yang tampak terlihat sangat menderita dan menoleh kearahku. “Kenapa ngga beli lagi aja sih stiknya? Jadinya bisa maen bareng kan?”

“Ya dia yang harus beli, orang dia yang ngerusakin,” kata Rai-nii, yang tadi memanggilku, sambil menunjuk Kak Bian.

“Yang ngedorong gua waktu itu siapa coba? Kalau aja lu mau sedikit lebih sabar, pasti stiknya ngga akan ketimpa sama badan gua kan?” bantah Kak Bian. Matanya masih fokus pada video lapangan hijau dan orang-orang mini yang sedang dikendalikannya.

“Jadi lu mau nyalahin gua, gitu??” seru Rai-nii. Lalu, dalam sekejap keadaan damai yang hanya sesaat itu kembali berubah menjadi teriakan-teriakan bodoh yang kekanakan. Aku menghela nafas dan memutuskan untuk meninggalkan dua orang aneh di depan TV itu. Tidak jauh dari sana, sebuah sofa berwarna coklat yang agak rendah mengisi salah satu sisi dinding dengan gagah. Di dekatnya, gagang telepon yang sudah diangkat dari tempat seharusnya berada ditaruh begitu saja. Masih memerhatikan tingkah kedua kakakku, aku berbicara dengan orang yang ada diseberang sana.

“Yo,” sapaku pada siapapun yang ada diseberang sana.

“Ris, ini gue, Aki.”

***

Haruaki Arisaka, sebuah nama yang aneh untuk ukuran orang Indonesia. Sebuah nama yang memunculkan ambigu bagi siapapun yang mendengar. Sebuah nama yang dapat membuahkan berbagai macam kombinasi nama panggilan. Sebuah nama yang mengarahkan setiap umat manusia yang mendengarnya kepada suatu jenis gender. Sebuah nama yang selalu berputar-putar di kepalaku sejak pertama mendengar nama asing itu.


***

“Anak-anakku, selamat datang di SMA Pelita Bandung! Mulai hari ini dan sampai kalian lulus, sekolah ini, bangunan kuno ini, adalah rumah kedua kalian!” seru kepala sekolah botak dari atas tangga imitasi berlapis karpet merah dengan semangat. Aku hanya bisa menghela nafas mendengar semua omong kosong beliau mengenai ‘masa remaja adalah masa paling indah’ atau ‘mari kita sama-sama menyongsong masa depan’ dan lainnya. Aku menguap lebar, sebagai akibat kurang tidur karena setumpuk tugas aneh yang dibebankan pada setiap murid baru. Nyaris saja aku tidur sambil berdiri kalau tidak ada orang yang menepuk pundakku.



“Haruaki Arisaka. Kamu?” todongnya tiba-tiba. Butuh beberapa lama untuk mencerna maksudnya, sebelum akhirnya aku bersalaman dengannya dan memperkenalkan diri.

“Amarisya Vardel. Pakai huruf ‘ve’,” kataku sambil membentuk huruf V dengan tanganku yang bebas. Ia mengangguk dan tersenyum lagi.

“Oke, Amarisya Vardel,” katanya sambil menirukan gerakan huruf V yang kubuat. “Mohon bantuannya selama setahun kedepan!”


***


Aku menaruh gagang telepon ditempatnya dan bangkit dari sofa.

“Siapa Ris?” tanya Kak Bian yang sekarang sudah resmi berhenti bermain dan menonton Rai-nii yang sedang autis sendirian.

“Haru.”

“Mau apa dia nelepon malem-malem gini? Ngga tau apa kalo kamu butuh istirahat?” sentak Rai-nii yang masih sibuk dengan stik PS2-nya.

“Dia punya masalah. Tadinya mau nelepon ke handphone, tapi punyaku mati total, lupa di-charge. Jadi aja dia nelepon ke rumah.”

“Cowok kok cerita sama cewek, lemah!” umpat Kak Bian, masih menonton dengan seksama. Aku menghela nafas dan pergi meninggalkan dua orang yang mengidap sister-complex berat itu. Di kamarku yang simpel, dengan dinding berlapis cat putih yang sudah pudar, meja belajar yang berantakan, rak buku yang tidak lagi digunakan sebagaimana mestinya, lemari pakaian yang menjulang tinggi dan besar dengan cermin menempel di salah satu pintunya, buku berserakan di karpet bermotif bunga yang didominasi warna oranye, serta tempat tidur ukuran single dengan seprai hijau muda polos dan selimut warna merah menyala, aku menghela nafas panjang lagi dan melorot ke lantai segera setelah pintu kututup rapat. Segera saja aku teringat apa yang baru saja Aki katakan padaku.

“Otou-san pulang besok. Gua ngga jamin bisa sekolah. Seandainya gua nggak dateng, tolong absenin, bilangin gue sakit.”

***

“Selamat pagi! Bapak absen dulu. Amarisya?” seru pak guru fisika sembari memanggil namaku. Aku buru-buru mengacungkan tangan dan baru menurunkannya setelah beliau memanggil nama orang lain.

“Ris, gua ngga liat Aki, kemana dia?” tanya Sinta, cewek berjilbab yang duduk di depanku.

“Sakit. Kemarin nelepon. Kalo emang ngga dateng ke sekolah, berarti dia beneran tepar di rumah.”

“Gitu?” tanyanya sambil mengerenyitkan alis. Aku mengangguk singkat.

“Haruaki?” panggil Pak Guru.

“Sakit pak! Suratnya nyusul!” jawabku yang langsung disambut oleh sorakan riuh makhluk-makhluk sekitar. Aku hanya bisa menghela nafas. Samar-samar aku bisa mendengar seruan-seruan seperti ‘Jelaslah, istrinya!’ atau ‘Tanyakan segala seuatu soal Haruaki pada Risya’ atau juga, ‘Dasar pasangan bodoh’ dan sebagainya.

“Risya, jangan terlalu banyak menghela nafas. Setiap kali kamu menghela nafas, kamu kehilangan satu kebahagiaan loh!” kata teman sebangku Sinta, Maya. Aku mendengus.

“Kalau kebahagiaan itu emang ngga pernah ada, menghela nafas berkali-kalipun kamu ngga akan merasa kehilangan apa-apa,” jawabku ketus tanpa melihat kearahnya.

“Ah, susah ngomong sama kamu mah. Suka ngga mau dikasih tau,” balasnya sambil berbalik. Sinta hanya menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya berbalik juga. Tiba-tiba, handphone-ku bergetar. Pesan singkat.

From : Haruaki
Tou-san udh smpe. Wsh me luck.
-aki-


Aku membaca pesan itu berkali-kali sebelum akhirnya menaruh benda itu di kolong meja dan kembali fokus pada pelajaran. Namun, tidak peduli sekeras apapun aku berusaha untuk menyerap semua angka-angka abstrak yang ada di papan tulis, pikiranku tertuju pada hiasan kupu-kupu berwarna hitam dari kulit dengan manik-manik merah muda pada sayapnya.


***


“Buat hasta karya sama temen sebangku kalian. Jangan lupa alasan kenapa kalian memilih untuk membuat karya itu. Dikumpulkan besok,” kata senior kelas dua yang bertugas membimbing kami. Pernyataan itu langsung disambut oleh reaksi keras dari teman sekelas. Sementara yang lain sibuk melakukan protes, aku justru bingung harus berkata apa.Ttiba-tiba saja, dia mencolek pundakku.

“Mau bikin apa nih?” tanyanya dengan paras bingung.

“Apa ya Ki? Yang jelas harus gampang dan bermakna. Biar enak di kita juga,” jawabku. Ia mengangguk-anggukan kepalanya dan merengut, berpikir.

“Oh! Itu aja!” serunya tiba-tiba.



***



“Ris! Risya!” seru Sinta sambil mengguncang tubuhku, membuatku tersadar.

“Hah? Apa?” tanyaku kaget sambil mengerjapkan mataku. Sinta dan Maya menggelengkan kepala mereka.

“Ris, inget, minggu depan UN. Masih sempet aja lu melamun pas pelajaran fisika. Tadi Pak Mario negur loh,” kata Sinta.

“Gara-gara kamu nggak jawab apa-apa, cuma bengong aja kayak kesurupan, anak-anak langsung heboh,” lanjut Maya. “Katanya kamu kangen sama Haru sampe segitunya. Gitu.”

“Kangen sama—

Kalimatku terputus begitu saja karena tiba-tiba handphone-ku bergetar lagi. Pesan singkat lagi, dari pengirim yang sama.

From : Haruaki
Gw kangen.
-aki-

Aku tidak bisa menahan senyum begitu melihat isi pesan yang sangat amat singkat sekali ini. Hal ini memicu keingintahuan Sinta yang memang besar, sehingga tiba-tiba ia sudah menduduki kursi kosong di sebelahku dan ikut membaca pesan itu.

“Gue kangen, aki. May, denger isi sms Haru! Gue kangen!” seru Sinta dengan suara keras. Kontan saja hal itu disambut dengan koor ‘cieee’ yang membahana dari semua anak. Sinta memukul-mukul pundakku sambil tertawa sementara Maya cekikikan ngga jelas.

“Ya ampun, padahal baru aja kita ngomongin soal Risya yang kangen sama Haru, langsung aja dia ngirim sms gini. Ini kekuatan cinta!” kata Maya seenaknya.

“Apaan sih!” sentakku kesal.

“Lugas, jelas dan aktual. Gue kangen! Hahahahaha!” jawab Sinta sambil terus tertawa-tawa mengerikan di sebelah. Aku bangkit dan berjalan keluar kelas, meninggalkan orang-orang gila yang sedang menyanyikan koor yang lain lagi.

SMA Pelita Bandung adalah sebuah SMA kuno yang sangat besar. Terdapat lebih dari lima puluh tujuh ruangan kelas untuk tiga angkatan, lapangan olahraga, taman, kantin dan berbagai fasilitas lain. Bangunan ini sendiri adalah bangunan kuno, peninggalan zaman penjajahan. Meski begitu, aura imperialismenya tidak terasa sama sekali.

Hari ini hujan turun dengan lebat, disertai petir dan kilat yang menyambar tanpa ampun dengan diiringi suara ledakan yang memekakkan telinga. Aku memandangi butiran-butiran hujan yang turun tanpa henti, seakan hendak membanjiri bumi ini. Suasana seperti ini membuatku mengantuk, sungguh! Ingin rasanya aku bergelung di dalam selimut hangat di kamarku yang berantakan itu. Aku menghela nafas lagi.

“Ris, ngapain kamu di luar?” tanya seseorang. Aku menoleh dan mendapati seorang pemuda tampan dengan wajah polos serta postur tubuh yang tinggi dan tegap sedang menatapku kebingungan.

“Ribut. Berisik,” jawabku ketus. Dia hanya mendengus kecil dan tersenyum.

“Your style,” katanya lagi, masih tertawa. “I guess that part of you’ll never change.”

“Berisik Gin. Lu sendiri ngapain diluar?”

“Gua dikeluarin,” katanya santai. “Lagi ngelempar kertas, terus kepergok si Ibu. Jadi aja diusir keluar,” katanya lagi sambil tersenyum kuda.

“Pelajaran apa emang?” tanyak penasaran. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum lebar.

“Ngga penting! Udah ah, temenin gue ke kantin!” serunya sambil menarik lenganku dan menyeret ku kearah kantin. Samar namun pasti aku bisa mendengar suara jerit histeris beberapa siswi dari arah kelasku.


to be continued

Tuesday, July 14, 2009

fashion itu keren!

aduh, berapa lama ya, saya berkubang di kolam ketinggalan zaman? Setelah klik klik sana-sini dan menemukan beberapa item fashion yang keren, waaw...

Di mana sih dapet aksesoris-aksesoris yang keren dan terjangkau???

Sunday, July 12, 2009

cerita cerita cinta

zzz... aduh, dapet peer nih.. ngok ngok...
sebenernya udah sering pisan dapet, sayangnya saya terlalu malas untuk mengerjakan semua itu. hehehe...
kebetulan, yang memeberi saya pper adalah temen saya si blekpapi..
well, let's get it on..





Jadi! peraturannya adalah... the 777 AWARD RULES!

1. "Everyone who get this award are obliged to write their recent love story and these rules in their new post."
2. "Everyone who get this award are obliged to tag 7 of your friends who have an unique love story to be shared then they must do what you do as well."

*kayaknya saya tidak akan melakukan peraturan nomer 2, deh..*

Okay, love story, eh? Hem, kisah cinta saya bisa dibilang,

Sendu,

Berantakan,

Terlalu banyak berkhayal,

Nggak realistis.

Yah, mari kita mulai dari zaman saya TK. Wuih, hebat nggak? Anak TK choy...

Jadi, waktu itu, saya sekolah di TK Angkasa III. Ditempat itu, ada seorang anak cowok yang putih, lucu, manis, baiiiiiikkkkkkkk banget. Dia sering main di rumah. Kita sama-sama main lego. Kalo inget masa-masa itu... hikssssssss

Yah, terus, kalo nggak salah, saya denger kabar dia mau pindah. WAH! Udah tegang aja pake nangis-nangis segala. Huek! Terus, saya bikin surat cinta buat dia. Yep, Anda sekalian tidak salah baca. SURAT CINTA atau lebih keren disebut LOVE LETTER. Tentu saja hal itu keburu diketahui oleh orang tua saya sehingga pupuslah harapan saya untuk katakan cinta (??????). Sekarang orangnya nggak tau ada di mana...

Next, zaman SD! Hem, pertama kali suka sama orang di SD ini waktu kelas,,,, 5 gitu? Yah, pokoknya ini mah lebih ke karma, ya? Jadi dulu saya termasuk orang yang ringan tangan. Pas kelas 4, ada cowok yang sering pisan saya jailin, saya jahatin, sampe nangis da orang itu. Hahaha, sakit jiwa. Pas kelas 5, entah apa yang ada di pikiran saya saat itu, saya HENSHIN jadi seorang cewek cengeng. Derrr, jadi saya yang dijailin. ZZZZZZZZZ. Yang ngejailin saya itu, nggak lain dan nggak bukan adalah orang yang waktu kelas 4 itu saya bikin nangis. Meh...

Terus, akhirnya saya jadi suka sama orang itu. Malah pake berantem sama temen yang kebetulan suka juga sama dia. Ributnya seru. Ejek-ejekan dan lalalala. Kalo diinget jadi pengen masuk ke lubang tanpa dasar. Wussshhhhhh. Saya suka sama dia, sampe beliin Silverqueen pas valentine. Ngeh.

Naik kelas 6, ganti lagi! Jadi sama orang yang "paling pinter" di kelas. Ahem, perlu diketahui bahwa sejak SD saya emang kurang bakat matematika dan si orang itu sangat pintar sekali di bidang tersebut. Well, saya kagum dong. Sayang, orang tersebut nggak jago IPS dan sering nyontek waktu ulangan peta buta. Dulu saya paling jagoan ngapalin peta buta. Semua ibukota negar di dunia saya apal. Sekarang? Boro-boro. Terus, waktu perpisahan, saya nembak si orang yang saya suka waktu kelas 5. Tentu saja saya ditolak. Haha. Dan saya nangis.

Tuhan, waktu itu saya goblok banget ya?

Pindah ke SMP, saya ngeceng orang lain lagii. Seorang yang namanya dibikin nama lagu. Tapi ngga terlalu berkesan ah.

Naik kelas dua, saya lempeng-lempeng dan datar-datar aja. Ada si, satu cowok yang lumayan care sama saya. Suka ngehina, ngejailin, and so on. Ngeh. But I like him as my friend dan nggak pernah gue berani ngebayangin gimana ngejalanin kelas 2 SMP tanpa dia. I owe you a lot buddy.

Singkatnya, saya suka sama temen sebangku si Buddy saya itu. *whistle*

Naik kelas, saya di operasi. Setelah dua bulanan nggak sekolah, saya kembali. Wah! Sekelas lagi sama kecengan waktu kelas 2! Asik! Tapi dia berubah dari sehangat lampu jadi sedingin kura-kura (??????). Grrrrr! Yah, sudahlah.

Begitu semester 2, saya jadi suka setengah mati sama sang Ketua Kelas dan hal itu berlanjut sampai sekarang. SAMPAI SEKARANG. Hauuuuuuu.

Aduh, saya itu emang tipe orang yang sekali suka, cinta maksudnya, nggak bisa lepas. Hueeehh... Sedih amat ya nasip sayaaa???

Masuk SMA, hidup saya jadi lebih hambar karena si Ketua Kelas masuk sekolah sebelah. Ngeeekkkkkkk. Belum lagi, ternyata dia udah jadian sama orang lain, dan masih awet juga sampai sekarang. NGEEEEEEKKKKKK.

Barulah, ketika saya kelas tiga SMA semester dua, di sebuah bimbel, orang itu duduk di sebelah saya.

Dan hidup saya jadi berwarna lagiiiiiiii~~~~~~~~~~~
*ditonjok gara-gara tolol*

Meski dalam sekejap juga, hidup saya jadi hambar lagi. Seminggu setelah UN, dia jadian. SHIT.

Oh, well, bukan jodoh kali? Kalo jodoh mah da ga kemana..

Tapi saya udah punya foto dia loh! Bukan, saya bukan stalker. Jadi, ceritanya saya iseng-iseng foto semua orang yang ada di kelas bimbel itu pake kamera hape. Meski itu cuma excuse doang. HAHAHAHAHA.

Ehem, yah, tapi tetap, rekor 17 tahun jomblo masih saya pegang. Heh? Ada rencana buat ganti status secepatnya? Hem,, nggak ngerti deh. Jujur aja, saya emang suka keramaian dan muak sendirian. Tapi kalau itu berarti menipu diri mah, well...

Hehe, mungkin segitu aja sih cerita dari saya. Mengingat betapa begonya saya (sekarang juga da masih).

Regards, guys!

tazzu aldehid

Saturday, July 11, 2009

Lembang asoyy

Zzzzz,, well, I'd been in Lembang since yesterday. At first, I thought my family were going to Ciater. I've already boasted to anyone that I would go there. But, in the end I ended up in Lembang..

There, I stayed at, what does that hotel name? err...., SanGria Hotel. At first, my dad told me something about Shangrila-Shangrila. I thought we're gonna stay at some Korean or Japanese style hotel. Hahaha.

Four people on a single room with two single bed. Can you imagine? My dad, my mom, my big bro, and myself. As usual, we turned the neat bedroom into a single messy untidy bedroom. It's look like a shipwreck. Hahaha.

I knew and really knew that Lembang is such a COLD place. But I never imagine that it will be more and more colder in the night. I couldn't count how many I woke up in the midnight only to pull the blanket. Brrrr....

Wake up on 6 AM, I drank some milk and took that opportunity to search for the swimming pool. But when I stepped outside the room,...

IT'S SO COLD YOU SON OF A BEE!!!

Well, after five minutes stood in front of the door doing nothing, I walked and searched that damned swimming pool. I found it in no time. A big blue swimming pool with an amazing scenery in front of it. Wheeewww~~~

But, when I touched the water, I pulled my hand back and walked as fast as I could to my room. The water was really cold. If I jumped there at that moment, I could turned into an ice statue in five seconds....zzzzzz

So, bye-bye swimming pool...

There, I ate so many tofu. The label said it was 'MILK TOFU'. Where's the milk???

Heheh, it's fun and such a great holiday. Next week we planned on going to Jakarta. If it's Jakarta then it's mean...

sleeping inside the car.

Groookkkkkkk....